DAKWAH SECARA SEMBUNYI-SEMBUNYI GUBI: PAK ROHMAT
Dakwah kepada Allah, antara sembunyi dan terang-terangan beserta dalilnya
Oleh: Ahmad Mifdlol Muthohar
(Kajian Dakwah pada 22 April 2012)
Sasaran Materi:
- Mengetahui berbagai argumen dakwah sirriyyah wal ‘alaniyah
- Mengetahui berbagai praktek dakwah sirriyyah wal ‘alaniyah sepanjang sejarah, mulai dari nabi Nuh, Nabi Muhammad, sampai pada dakwah masa kontemporer, dengan mengkaji faktor-faktor yang melatar-belakanginya.
- Memiliki kemampuan analitik untuk menentukan pilihan antara sirriyyah wal ‘alaniyyah dalam tataran operasional.
Uraian Materi:
Ketika berbicara tentang dakwah
sirriyyah dan ‘alaniyyah dalam dakwah, maka ada dua konteks pengertian
yang harus difahami: (1) Sebagai fase dakwah; (2) Sebagai sub fase
dakwah tertentu.
Ketika Rasulullah s.a.w. berdakwah di
Makkah pertama kali, sejarah mencatat bahwa model dakwah yang beliau
lakukan adalah dengan cara sembunyi-sembunyi, yang hal itu berlangsung
semenjak turunnya wahyu pertama kali hingga masuk Islamnya Umar bin
Khaththab. Setelah Umar masuk Islam, maka fase dakwah berubah menjadi
terang-terangan. Inilah yang disebut dengan “dakwah sirriyyah dan
‘alaniyyah sebagai fase dakwah”.
Sedangkan “dakwah sirriyyah dan
‘alaniyyah sebagai sub fase dakwah” dapat terjadi di semua fase dakwah.
Ini lebih tepat dianggap sebagai strategi perjuangan dakwah. Misalnya
adalah penugasan-penugasan yang diberikan Rasul s.a.w. kepada beberapa
sahabatnya di fase dauly (setelah berdirinya Negara Madinah), untuk
kepentingan dakwah, contoh Hudzaifah bin Yaman yang ditugasi menerobos
barisan musuh secara sembunyi (sirriyyah) dan tidak perlu membuat
kegaduhan di sana. Contoh lain adalah islamnya Abdullah bin Salam (tokoh
Yahudi). Ada pula seorang sahabat yang menyembunyikan keislaman dari
kaumnya, untuk melakukan misi adu domba agar mereka tidak menyerang umat
Islam.
Strategi Dakwah Nabi Nuh ‘alaihissalam
Terlepas dari dua pengertian di atas, yang jelas dakwah sirriyyah dan ‘alaniyyah sesungguhnya
adalah “strategi perjuangan” dalam berdakwah. Sejak zaman Nabi Nuh a.s.
dakwah secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan juga sudah
dilakukan beliau saat itu. Allah s.w.t. berfirman dalam QS. Nuh: 8-10:
ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا.ثُمَّ
إِنِّي أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا. فَقُلْتُ
اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (نوح: 8-10)
“Kemudian sesungguhnya Aku telah
menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian
sesungguhnya Aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan
dengan diam-diam. Maka Aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun
kepada Tuhanmu, sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun.” (QS. Nuh: 8-10)
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa
Nabi Nuh a.s. pada mulanya melakukan dakwah secara diam-diam, kemudian
secara terang-terangan namun tidak juga berhasil. Dan terakhir kalinya
Nabi Nuh a.s. melakukan kedua cara itu dengan sekaligus. Demikian
perjuangan beliau yang tiada henti, berpikir dan sekaligus mempraktekkan
segala bentuk strategi perjuangan dakwah semaksimal mungkin.
Strategi Dakwah Nabi Musa ‘alaihissalam
Ternyata model perjuangan dakwah
sembunyi-sembunyi juga dilakukan pada masa Nabi Musa a.s., hanya saja
modelnya yang berbeda. Pada masa Nabi Musa a.s. pelaku dakwah sirriyyah bukanlah
Nabi Musa a.s., namun sebagian kader dakwah yang memungkinkan
posisinya. Ini sebenarnya adalah strategi yang dilakukan oleh Musa a.s.
Setidak-tidaknya ada dua atau tiga orang pelaku dakwah sirriyyah,
sebagaimana disebut dalam ayat berikut:
وَقَالَ رَجُلٌ مُؤْمِنٌ مِنْ آَلِ
فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إِيمَانَهُ أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَنْ يَقُولَ
رَبِّيَ اللَّهُ وَقَدْ جَاءَكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ مِنْ رَبِّكُمْ وَإِنْ
يَكُ كَاذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ وَإِنْ يَكُ صَادِقًا يُصِبْكُمْ بَعْضُ
الَّذِي يَعِدُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ
كَذَّابٌ (غافر: 28)
“Dan seorang laki-laki yang beriman
di antara keluarga Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah
kamu akan membunuh seorang laki-laki Karena dia menyatakan: “Tuhanku
ialah Allah padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa
keterangan-keterangan dari Tuhanmu. dan jika ia seorang pendusta Maka
dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu. Akan tetapi jika ia seorang
yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan
menimpamu”. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang
melampaui batas lagi pendusta.” (QS. Ghafir: 28)
Dalam tafsir Ath-thabary disebutkan ada
dua riwayat: Pertama, lelaki itu adalah anak paman Fir’aun; Kedua:
Lelaki itu bernama Jibril (kerabat Fir’aun). Ibnu Abbas mengatakan bahwa
tidak ada yang beriman dari keluarga Fir’aun kecuali dua, yaitu lelaki
dalam ayat di atas dan isteri Fir’aun. Dalam ayat tersebut, lelaki dari
keluarga Fir’aun itu memiliki peran “meminimalisir” kejahatan Fir’aun
terhadap Musa dan Bani Israel, walaupun tidak jelas benar hasil lobinya.
Ada lagi dalam ayat lain tentang peran “lelaki tersembunyi” pada masa Musa a.s.:
وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ
يَسْعَى قَالَ يَا مُوسَى إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ
لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ (القصص: 20)
“Dan datanglah seorang laki-laki dari
ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: “Hai Musa, Sesungguhnya
pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab
itu keluarlah (dari kota ini) Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang
memberi nasehat kepadamu”.
Banyak riwayat mengatakan tentang siapa
lelaki itu, salah satunya ada yang mengatakan dia bernama Syam’un.
Sedangkan riwayat lain, sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ath-Thabary,
Qatadah mengatakan bahwa lelaki itu adalah lelaki mukmin dari keluarga
Fir’aun. Lelaki tersebut berperan sebagai informan rahasia bagi Musa
a.s.
Adapun peran isteri Fir’aun, Asiyah dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut:
وَقَالَتِ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ قُرَّةُ
عَيْنٍ لِي وَلَكَ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ
نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (القصص: 9)
“Dan berkatalah isteri Fir’aun
(Asiyah): “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. janganlah
kamu membunuhnya, Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita
ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari.” (QS. Al-Qashash: 9)
Imam Ath-Thabary menjelaskan tentang
jawaban Fir’aun dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Abbas, bahwa setelah
dikatakan oleh Asiyah bahwa bayi itu akan menjadi penyejuk mata hati
baginya dan bagi Fir’aun, maka jawaban Fir’aun, “Itu penyejuk bagimu,
adapun aku tidak memerlukannya.” Lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: Demi
Dzat Yang digunakan sumpah (oleh makhluknya), seandainya Fir’aun
mengakui Musa sebagai penyejuk baginya sebagaimana isterinya mengakui,
sungguh Allah akan memberinya hidayah sebagaimana isterinya, namun
Fir’aun mencegahnya.”
Sirriyyah Pada Masa Nabi Muhammad s.a.w.
Demikian pula Rasulullah s.a.w. juga melakukan model dakwah sembunyi dan terang-terangan. Firman Allah s.w.t.:
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ (الحجر: 94)
“Maka sampaikanlah olehmu secara
terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan
berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-Hijr: 94)
Ayat ini mengandung makna bahwa sebelum
turun ayat tersebut Rasulullah s.a.w. berdakwah secara
sembunyi-sembunyi, dan itu berlangsung hingga 3 tahun, tepatnya sampai
masuk Islamnya Umar bin Khaththab yang seiring dengan perintah dalam
ayat di atas.
Adapun strategi lain yang pernah dicontohkan Rasul s.a.w. tentang dakwah sembunyi-sembunyi ini sebagai berikut:
وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ
أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى
أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ
مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ
الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا (النساء: 83)
“Dan apabila datang kepada mereka
suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu
menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil
Amri (tokoh-tokoh sahabat dan para cendekiawan) di antara mereka,
tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat)
mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil amri). Kalau tidaklah karena
karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan,
kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (QS. An-Nisa’: 83)
Menurut sebagian Mufassirin, maksudnya
ialah kalau suatu berita tentang keamanan dan ketakutan itu disampaikan
kepada Rasul dan ulil Amri, tentulah Rasul dan ulil amri yang ahli dapat
menetapkan kesimpulan (istinbat) dari berita itu.
Pilihan Sirriyyah dan ‘Alaniyyah di Era Sekarang
Hingga era saat ini sirriyyah dan ‘alaniyyah tetap
merupakan strategi yang ampuh dan digunakan olehh para aktifis dakwah.
Perwakilan IDB untuk Indonesia, Dr. Mahlani, pernah mengatakan bahwa
setiap strategi dan program-program IDB untuk umat Islam di seluruh
dunia, wajib hukumnya untuk kami rahasiakan. Demikian ungkap Mahlani
dalam forum pertemuan ilmiah di Salatiga, pada akhir tahun 2011 lalu.
Undang-Undang lokal maupun kode etik
internasional terkadang juga memaksa umat Islam di era kontemporer untuk
menentukan garis perjuangan, baik sembunyi atau terang-terangan. Semua
itu harus menjadi kesadaran mendalam para dai, untuk kemudian diputuskan
langkah yang tepat dalam menyukseskan dakwah. Try and Error tentu
adalah sesuatu yang biasa. Yang tidak biasa bagi kader dakwah adalah
ketika ia tidak pernah/tidak mau “try” sehingga tidak pernah “error”
tindakannya. Padahal sesungguhnya yang tidak pernah/tidak mau
“try”melalui aktifitas fisik, yang “error” memang “bukan tindakannya”,
namun seringkali “hatinya yang error.” Wallahu A’lam Bish-shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar